ORISINILITAS AL-QUR’AN DALAM BINGKAI SEJARAH

ORISINILITAS AL-QUR’AN DALAM BINGKAI SEJARAH
(Sebuah Pengantar)
Oleh : Mukhlis Yusuf Arbi’

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (Al Quran), dan kamilah yang akan menjaganya”

Pendahuluan

Al-Qur’an semenjak kemunculannya empat belas abad yang lalu sampai sekarang telah menarik perhatian seluruh umat di dunia ini. Sebagai miracle terbesar umat Islam, al-Qur’an tiada henti-hentinya dijadikan objek kajian, diskusi, dan penelitian tidak hanya dikalangan bangsa timur belaka, bahkan kalangan barat pun ikut urun rembug mengeksplorasi al-Qur’an. Kajian-kajian al-Qur’an tidak hanya dilakukan oleh orang-orang seperti at-Thabari, Zamakhsyari dan as-Suyuthi saja. Sederet nama asing pun ikut menghiasi blantika kajian kalamullah ini, sebut saja Arthur John Arberry, Ignaz Goldziher, Joseph Scacht, Louis Massignon dan sederet nama besar lainnya.

Alqur’an telah mengarungi sejarah panjang selama empat belas abad lebih. Dimulai sejak rasul Muhammad menerima pesan ketuhanan berupa al-Qur’an, lalu menyampaikannya kepada para sahabat yang merupakan generasi pertama Islam yang kemudian mereka menghafal dan merekamnya dalam berbagai media ketika itu, sampai pada masa transkripsi kemudian era stabilisasi teks dan pembacaannya dan kemudian masa transliterasinya, al-Qur’an ini masih tetap menarik minat pembacanya karena berbagai keajaiban yang ada di dalamnya.
Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan begitu saja dari sejarah, bukan hanya karena al-Qur’an itu berbicara sejarah, tetapi keotentikan al-Qur’an itu sendiri ditentukan dari pembacaan sejarah secara obyektif dan komprehensif. Mengutip pendapat orientalis Gerd R. Joseph Puin yang mengatakan bahwa satu-satunya cara menjatuhkan nilai sakralitas al-Qur’an adalah dengan cara mengkaji sejarah al-Qur’an (secara subyektif tentunya). Tujuan mereka jelas, berusaha mengendurkan kepercayaan di kalangan Muslim yang mempunyai anggapan bahwa Al-Qur’an yang sampai ketangan kita, hingga hari ini, masih dalam bentuknya yang sempurna, tanpa batas waktu, dan kata-kata Tuhan yang tidak pernah berubah.
Membincang orisinilitas al-Qur’an dalam kurun sejarah yang cukup panjang terkadang membuat kita mengerutkan dahi. Dalam kurun masa selama itu mungkin saja terjadi perubahan-perubahan baik secara eksplisit maupun implisit, disinilah nantinya terlihat pentingnya akan menilik dan menalar sejarah panjang turunnya al-Qur’an. Dimulai dari kondisi sosio-politik, geografis, ragam keagamaan serta corak sastra dan perniagaan serta pemikiran kala itu adalah beberapa langkah awal untuk memulai pembacaan al-Qur’an lewat sejarahnya yang panjang. Tulisan ini mencoba mengurai secara lugas namun singkat benang merah kajian geneologi al-Qur’an yang berkaitan erat dengan kebutuhan akan pemahaman dan kepercayaan yang kuat bahwa verbum dei (kalâm Allâh) ini adalah kitab suci yang berisi hukum, kisah dan prosa yang paling otentik sepanjang sejarah panjang berputarnya bumi ini.
Kajian ini secara sistematis harus dimulai dengan pembacaan akan kondisi sosio-geografis bangsa arab ketika akan diturunkannya al-Qur’an, kemudian melihat segala problematika bangsa arab dengan tradisi-tradisi jahily ketika itu, pula dengan pembacaan secara lugas corak pemikiran dan perkembangan sastra arab saat diturunkannya al-Qur’an. Membincang kondisi arab pasca turunnya al-Qur’an adalah hal yang cukup penting dalam kajian ini. Masa-masa periwayatan, penulisan, kodifikasi, unifikasi serta transkripsi adalah hal-hal yang amat rentan untuk terjadinya beberapa kesalahan penulisan atau bahkan penyelewengan seperti apa yang terjadi dalam kitab perjanjian lama maupun baru. Yang secara keseluruhannya akan menarik kesimpulan apakah al-Qur’an itu layak kita yakini sebagai kitab suci yang paling otentik dalam sejarah panjang kehidupan beragama dipenghujung abad ini.

Mekkah Sebelum Turunnya al-Qur’an

Arab atau yang biasa disebut Jazirah Arab adalah sebuah semenanjung besar di Asia Barat Daya pada persimpangan dua benua yaitu Afrika dan Asia. Kawasan ini dikelilingi Laut merah dan Teluk Aqabah di sebelah barat daya, Laut Arab disebelah tenggara serta disebelah timur laut dikelilingi Teluk Oman dan teluk Persia. Secara politik, kawasan ini meliputi negara Arab Saudi, Kuwait, Yaman, Oman, Uni Emirat Arab, Qatar dan Bahrain.
Secara geografis kawasan ini hampir bisa dikatakan terisolasi. Posisinya yang dikelilingi gurun-gurun pasir dan pegunungan batu yang ganas membuat kawasan ini terlihat amat menyeramkan. Hal ini yang menyebabkan para penduduk asli kawasan semenanjung arab ini lebih terkenal dengan masyarakat nomaden agraris, selalu berpindah tempat untuk mencari mata air ataupun wilayah yang subur untuk memberi makan keluarga dan ternak mereka. Dari sini saja kita bisa melihat sisi lain kehidupan bangsa arab ketika itu yang cukup keras.
Berbicara sejarah al-Qur’an maka secara otomatis akan berbicara sejarah tanah air pertama umat Islam, Mekkah. Adalah merupakan kota perniagaan yang sangat makmur. Pada zaman itu, Mekkah bukan merupakan suatu desa yang terpencil jauh dari keramaian dan kesibukan dunia. Sebagai kota dagang yang ramai dan makmur, hampir memonopoli pusat perdagangan antara Lautan India dan Laut Tengah, penduduk Mekkah ketika itu berhasil menjalin hubungan perdagangan dan diplomatik yang baik dengan suku Arab dan pembesar-pembesar Romawi . Secara fakta sejarah, kota Mekkah adalah satu-satunya kota (selain Madinah) terpenting dalam sejarah bangsa arab. Hal ini dibuktikan dengan gencarnya dua imperium besar ketika itu untuk menguasai kota Mekkah. Sejarah berbicara bahwa menjelang lahirnya Muhammad, penguasa Abisinia di Yaman yaitu Abrahah, melakukan invasi ke Mekkah, tetapi gagal menaklukkan kota tersebut lantaran penyakit cacar yang menimpa bala tentaranya. Ekspedisi penaklukan ini pada awalnya memiliki tujuan yang secara sepenuhnya berada di dalam kerangka politik ketika itu, yaitu upaya Bizantium untuk menyatukan suku-suku Arab di bawah pengaruhnya guna menentang Persia, serta berusaha menghancurkan Ka’bah sebagai pusat ziarah keagamaan di semenanjung Arab. Perebutan kekuasaan yang berkepanjangan antara Bizantium dan Persia, seperti telah diutarakan, mendapat perhatian serius dari orang-orang Arab ketika itu, lantaran relevansi politiknya yang nyata terhadap mereka.
Ka’bah adalah salah satu kebanggaan masyarakat Mekkah selain syair. Mereka menjadikan Ka’bah sebagai pusat kegiatan dan informasi juga sebagai alat propaganda. Bahkan demi mempertahankan Ka’bah mereka rela menukar nyawa hanya untuk kebebasan Ka’bah dan sang batu hitam yang amat diagungkan kala itu. Sebelum al-Qur’an diturunkan peranan suku Quraisy dalam perawatan dan penjagaan Ka’bah amatlah penting. Merekalah yang berkuasa penuh dalam segala hal yang berurusan dengan kiblat kedua umat muslim ini. Nama-nama bani terkenal seperti Hasyim, Umayyah, Makhzum, Asad, Noufal, dan Zahrah adalah kelompok-kelompok yang berwenang saat itu. Namun dalam bukunya yang kontroversial ; Al-Hizbul Hâsyîmiy wa Ta’sîsud Daulatil Islâmiyyah, al-Qummi berpendapat berbeda. Tokoh terpenting dibalik penguasaan Ka’bah adalah Bani Hasyim melalui tangan dingin kepemimpinan Abdul Muthalib, kakek Muhammad. Beliaulah yang berwenang mengatur seluruh kebutuhan Ka’bah dan kebutuhan para pemujanya. Bahkan al-Qummi mensinyalir bahwa Abdul Muthalib-lah tokoh yang berperan penting dalam proses kenabian dan pendirian negara baru di Mekkah, tentunya dengan dukungan penuh klan Hasyim. Hal ini beranjak dari keprihatianan sang kakek akibat keterpurukan dan perpecahan bangsa Hijaz dimana patung-patung berhala yang bertebaran disekitar Ka’bah dan para penyair-penyair sesat menjadi faktor utama perpecahan. Ia amat merindukan kedamaian dan persatuan diantara bangsa Hijaz, dan dari kemampuan olah pikir yang hebat, Abdul Muthalib memutuskan akan pentingnya sebuah negara dengan pemimpin tunggalnya, dan orang yang paling tepat untuk itu haruslah dari keturunannya sendiri.
Perniagaan adalah satu-satunya mata pencaharian yang diandalkan oleh masyarakat Mekkah saat itu, dengan kondisi Mekkah yang disebut dalam al-Qur’an sebagai bi wâdin ghoiri dzî zar’in pertanian adalah hal yang mustahil untuk dikerjakan. Padang-padang tandus, gunung-gunung berbatu dan curah hujan yang hanya turun beberapa kali dalam setahun membuat orang-orang Mekkah hanya mengandalkan berdagang untuk sumber pencaharian mereka. Barang-barang dagangan mereka nantinya ditukar dengan kebutuhan pokok serta pakanan ternak mereka. Itulah sebabnya al-Qur’an memberi porsi yang lebih dalam urusan perdagangan. Penulis sendiri secara pribadi kurang sependapat dengan dasar pemikiran bahwa al-Qur’an itu diturunkan pada konteks masyarakat agraris, walaupun salah satu bukti nyata adalah penamaan surat-surat di dalam al-Qur’an dengan nama-nama seperti al-Baqarah, an-Nahl, al-An’am, al-Ankabut, At-Tiin dan lain sebagainya. Memang pada saat itu perniagaan mulai berkembang pesat, yang pada akhirnya kesemuanya mengarah kepada aqad tukar menukar barang untuk mendapatkan hasil pertanian, tapi mata pencaharian utama mereka adalah berdagang, kalaupun nanti tujuan akhir dari perdagangan itu adalah untuk mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari itu adalah hal yang berbeda.
Dua ratus mil sebelah utara dari Mekkah terdapat tanah air kedua umat Islam, Yastrib atau yang biasa dikenal dengan Madinah. Kondisi daerah ini bertolak belakang dengan kondisi geografis Mekkah yang gersang. Yastrib dikenal sebagai kawasan oase yang subur dan merupakan wilayah pertanian kurma yang banyak dikelola oleh orang-orang yahudi ketika itu. Dsinilah rasul Muhammad mulai menyebarkan sayap ajaran yang diterimanya setelah mengalami penolakan dan permusuhan besar-besaran kaumnya sendiri di kota kelahiran beliau, Mekkah.

Masyarakat Mekkah dan Kehidupan Beragama
Kehidupan ekonomi masyarakat Mekkah pra turunnya al-Qur’an berkembang pesat, jalur perdagangan mereka pun sudah meranjak ke kota Yaman dan Damaskus. Namun jurang sosial pun tidak terelakkan lagi. Yang kaya akan semakin kaya dengan segala atributnya, sementara kaum papa semakin terlihat miris disetiap pojok-pojok pasar. Aksi-aksi sosial adalah hal yang amat begitu dibanggakan ditengah masyarakat Mekkah saat itu. Kedermawanan adalah hal yang prestisius ditengah keganasan dan kegersangan alam.
Namun ditengah pesatnya ekonomi saat itu, kehidupan beragama masyarakat Mekkah tidak sedikit pun mengalami kemajuan yang berarti. Mereka masih berkutat kepada berhala-berhala semacam Latta dan Uzza. Ka’bah saat itu dipenuhi dengan patung-patung kecil sesembahan masyarakat jahily ketika itu. Keyakinan ini sudah mendarah daging turun-temurun dari nenek moyang mereka. Maka ketika Muhammad mulai terang-terangan menyeru ajaran tauhid, adalah hal yang dapat diprediksi munculnya penolakan-penolakan yang hebat dari para status quo. Masyarakat saat itu sudah terlanjur merasa nyaman dengan rutinitas ibadah mereka, juga keyakinan-keyakinan ataupun mitos yang diceritakan turun-temurun. Faktor kebodohan bangsa arab juga amat berperan penting. Al-Qur’an dalam beberapa kesempatan menyindir kebodohan orang-orang arab saat itu, terutama terhadap keyakinan mereka akan kemampuan tuhan-tuhan mereka yang jelas-jelas terbuat dari tanah ataupun batu dimana mereka sendiri yang mengukirnya.
Abdul Muthallib ketika itu merasa miris dengan keadaan bangsa arab, ia merasa tidak nyaman dengan tradisi kebodohan dan berbilangnya jumlah tuhan. Hanya satu yang ia inginkan, sebuah ajaran yang berkiblat pada prinsip ke-esaan. Tidak terkecuali cucu tercintanya Muhammad, setelah sekian lama melihat keadaan kaumnya yang semakin terjerumus dalam kebodohan dan kesesatan, jiwa muda Muhammad bergejolak menolak adat dan kepercayaan kaumnya. Berkali-kali disebutkan dalam sejarah bahwa Muhammad sengaja melakukan penyepian diri untuk merenungi segala permasalahan yang Ia hadapi saat itu. Dan terbukti dalam beberapa buku yang berbicara tentang Sirah Nabawi di saat itulah Muhammad mendapat wahyu untuk yang pertama kali.
Disamping kehidupan beragama yang terbelakang, kaum arab saat itu dikenal dengan tradisi peperangan yang terus menerus. Hanya pada bulan tertentu saja mereka mengharamkan terjadinya peperangan. Jika kita melihat secara seksama ada satu hal yang menjadi faktor terpenting dalam terjadinya peperangan antar kabilah-kabilah arab, yaitu solidaritas kesukuan. Solidaritas kesukuan tidak hanya merupakan karakteristik asli kehidupan ala padang pasir yang terkenal kejam, tetapi juga di kota-kota niaga seperti Makkah ataupun kota pertanian semacam Madinah, tetapi juga bertalian erat dengan ideologi balas dendam. Dalam pola kehidupan di jazirah Arabia saat itu, pada umumnya seseorang yang berasal dari klan kecil akan berupaya menghindar dari mencelakai atau membunuh orang lain, jika orang tersebut berasal dari suatu suku ataupun klan kuat yang pasti akan menuntut balas atas diri dan sukunya. Menurut prinsip ini, bukanlah sebuah keharusan bahwa si pembunuh yang mesti dieksekusi dalam balas dendam, tetapi siapa saja, baik itu dari suku ataupun dari klan si pembunuh yang berstatus sama dengan korban. Bahkan dalam satu kesempatan seringkali terjadi peperangan akibat ketidakpuasan anggota suku yang dibunuh karena sang pembunuh tidak setaraf derajatnya dengan yang dibunuh. Mungkin itulah faktor utama kenapa peperangan di dalam bangsa arab menjadi suatu yang prestisius.
Bahkan secara langsung Muhammad mendapat keuntungan dari tradisi kesukuan ini, ia mendapat perlindungan secara otomatis dari orang-orang yang ingin membunuhnya. Ia bisa bertahan sampai sedemikian rupa dari serangan para oposisinya karena berasal dari salah satu suku terkemuka saat itu, bani Hasyim. Karena berdasarkan prinsip kesukuan, siapapun yang telah menggangu anggota sukunya, adalah suatu kewajiban untuk memberi perlindungan dan membalas penghinaan yang dilakukan .. Tetapi, setelah klan ini menarik perlindungan atasnya pada masa kepemimpinan Abu Lahab yang akhirnya melatarbelakangi kecaman keras al-Quran terhadapnya dalam surat al-Lahab, Nabi melakukan hijrah ke Madinah. Di kota ini beberapa klan tertentu, yang menerima risalah kenabiannya, bersedia memberikan jaminan keamanan kepadanya.

Al-Qur’an Antara Hukum, Sejarah, Dan Sastra; Sebuah Tinjauan Singkat
Tidak dapat dipungkiri lagi, berbicara sejarah pra turunnya al-Qur’an maka perbincangan seputar sastra klasik (jahily) adalah hal mutlak yang perlu didiskusikan. Meminjam istilah Syauqi Dloif bahwa diturunkannya al-Qur’an di tanah arab adalah bukti penghargaan Tuhan terhadap para penyair arab saat itu. Posisi al-Qur’an disamping sebagai kitab hukum dan indeks sejarah adalah berfungsi sebagai bukti kerasulan Muhammad. Dengan keindahan bahasa yang sempat dikatakan oleh salah seorang tokoh Quraisy saat itu Walid bin Mughirah dengan ungkapan Mâ huwa min kalâm al-Insi wa lâ min kalâm al-Jinn al-Qur’an berperan penting dalam perubahan sastra jahily dalam hal yang signifikan. Kegelisahan Abdul Muthalib terhadap kualitas syair-syair arab saat itu yang lebih cenderung cabul dan tidak bermoral seolah mendapat jawaban dari Tuhan melalui penurunan al-Qur’an.
Kesusastraan jahily dalam beberapa dekade lebih menekankan pada nuditas dan seksualitas. Tokoh sastra jahily seperti Imru’ul Qays, yang karya-karyanya diakui keorisinalitasan dan kejeniusannya tetapi ternyata dikutuk oleh Nabi sebagai pemimpin penyair di dalam api neraka, karena kecabulan dan nuditas dalam karya-karyanya yang sangat pornografis. Bahkan al-Qur’an pun ikut mengutuk perilaku para penyair jahili “Penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang sesat. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi”. Bisa dibilang, turunnya al-Qur’an adalah sebuah pukulan telak bagi para penyair klasik, al-Qur’an diturunkan seolah-olah sebagai penyaing keulungan para sastrawan jahily. Bahkan disebutkan seorang tokoh penyair bernama Labid bin Rabi’ah sampai memilih pensiun jadi penyair manakala keindahan Alquran sungguh menyapa hati dan hidupnya.
Kualitas pengetahuan bangsa arab sebelum al-Qur’an diturunkan memang berada dalam posisi yang miris. Mereka dikenal sebagai bangsa yang tidak mengenal baca dan tulis pada sebagian masyarakatnya. Tapi disisi lain terdapat segelintir masyarakat jahily yang pintar, bahkan kepintarannya belum dimiliki oleh kebudayaan umat dan bangsa manapun saat itu. Kepintaran ini telah masuk ke segala lini struktur kehidupan. Kepintaran itu adalah dalam hal mencipta karya sastra. Para pengamat sejarah sastra klasik tak ada sedikitpun yang ragu, bahwa tokoh-tokoh penyair jahily seperti Imru al-Qays, Ka’ab ibnu Zuhair, Amru bin Kultsum, al-Harits, Hatim al-Tha’i, Qays bin Mulawwih, Labid bin Rabi’ah, Tharfa bin ‘Abd, Zuhair bin Salma, adalah para penyair ulung sebelum lahirnya peradaban dunia. Karya-karya mereka digantung di dinding Ka’bah sebagai simbol kebesaran dan kebanggaan suku dan ras yang mengalir pada darahnya.
Ibnu Khaldun berpendapat bahwa turunnya al-Qur’an adalah faktor utama kemandegan sastra klasik, al-Qur’an adalah momok buat para penyair kala itu. Namun kalau kita menilik lagi sejarah sastra klasik justru al-Qur’an membuat para penyair semakin berlomba-lomba untuk menyaingi keindahan bahasa al-Qur’an yang mereka anggap sebagai produk Muhammad. Yang pada akhirnya ditarik sebuah kesimpulan bahwa kemampuan mereka masih tidak bisa menandingi keindahan bahasa al-Qur’an. Syauqi Dloif pun membantah pendapat Ibnu kholdun dengan mengatakan bahwa al-Qur’an lah yang berperan penting dalam penyelamatan sastra arab, bahkan Nabi dan para sahabatnya juga ikut melestarikan syair-syair klasik, tentunya berupa syair-syair tandingan terhadap orang-orang musyrik. sejarah mencatat, bahwa Nabi beserta para khalifahnya kemudian terus mendorong para penyair agar terus berpuisi tetap dilakukan setelah mengetahui penyair Labid bin Rabi’ah melakukan aksi mogok menjadi penyair setelah turunnya QS As-Syu’ara, selama mereka masih berpegang pada pendirian yang pertama, yakni mempertahankan nilai-nilai lama yang dibenarkan oleh Islam dan nilai-nilai baru yang dibawa oleh ajaran Islam.
Ada satu kaitan menarik dimana al-Qur’an diposisikan tidak sebagai kitab hukum an sich tetapi juga sebagai indeks sejarah dan induk sastra, kenapa demikian ? karena dari sekian banyak ayat yang terdapat dalam al-Qur’an hanya sekian ratus ayat saja yang berbicara tentang hukum, selebihnya hanyalah berisi cerita-cerita masa lampau yang terkadang mengerutkan dahi tentang kevaliditasannya, hal ini seperti apa yang dikemukakan oleh Ahmad Khalafullah dalam bukunya yang terkenal al-Fann al-Qashasî fi al-Qur’an al-Karîm , Khalafullah cenderung beranggapan bahwa cerita-cerita yang terdapat dalam Alquran bukanlah dipahami sebagai sejarah belaka, sebaiknya, merupakan cerita yang bercorak sastra.. Disamping itu al-Qur’an juga bisa dikatakan sebagai kitab induk sastra karena sedemikian rumit dan susahnya memahami kata-demi kata yang terdapat didalam al-Qur’an sehingga muncul karya-karya para cendikiawan Islam dalam kajian-kajian lingustik ala al-Qur’an yang sudah tak terhitung lagi banyaknya.
Membincang sejarah al-Qur’an dalam tatanan sastra jahily adalah berbicara sejarah yang amat panjang. Fungsi al-Qur’an sebagai al-Mu’jizat al-Kubrâ terasa lebih kentara dan bermakna ketika bersinggungan dengan nilai-nilai sastra klasik. Keindahan bahasa, kedalaman makna ataupun ketidakmampuan manusia dalam memahami beberapa kata tertentu dalam al-Qur’an justru semakin memberi keyakinan bahwa al-Qur’an tidak hanya berupa sebuah karya sastra yang agung, tetapi ia adalah buah karya sang Pencipta.

Kesimpulan
Menyoal sejarah al-Qur’an adalah ibarat menyusun ensiklopedia panjang tentang Islam semenjak pra turunnya al-Qur’an sampai pada masa kini. Karena berbicara sejarah al-Qur’an secara otomatis membicarakan sejarah panjang perjalanan umat Islam dari masa ke masa. Dimulai dari masa pra Islam dimana saat itu betebaran penyair-penyair jahily ulung, peperangan kabilah dimana-mana, kemerosotan moral dan kebodohan beragama sampai pada era kodifikasi teks al-Qur’an , pada posisi inilah al-Qur’an berada dalam posisi yang rentan untuk diselewengkan. Pembahasan pun tidak sampai di situ, keaslian penulisan al-Qur’an ala rasm usmani juga harus mendapat perhatian yang lebih. Bahkan pembahasan seperti Nasikh Mansukh, Asbab al-Nuzul, Makki Madani, Qira’at, dan periwayatan hadist seputar al-Qur’an diturunkan dalam 7 dialek adalah hal mutlak yang perlu diikutkan. Itulah mengapa para orientalis begitu giatnya mengkaji sejarah panjang perjalanan al-Qur’an semata-mata untuk mencari celah dan cela agama yang sudah berdiri lebih dari 14 abad ini. Karena keaslian agama yang kita anut, amat sangat ditentukan pula dengan keaslian kitab suci yang kita miliki.
Dalam tulisan singkat ini memang sengaja tidak disinggung beberapa hal yang terkait diatas, disamping itu pula perdebatan-perdebatan ulama klasik seputar jumlah ayat, nama surat, ataupun beberapa riwayat yang yang berisi tentang surat-surat yang tidak dicantumkan lagi dalam al-Qur’an edisi cetakan Mesir sekarang. Juga cerita seputar penulisan awal al-Qur’an dan kajian-kajian seputar mushaf yang dimiliki para sahabat juga seringkali menjadi sorotan utama dalam menyoal keaslian al-Qur’an. Penulis berharap pada kajian selanjutnya ada pembahasan-pembahasan lanjutan tentang hal-hal tersebut diatas, karena konheren dalam kajian sejarah al-Qur’an adalah hal yang mutlak dalam rangka pemahaman sejarah secara komprehensif. dan qualified. Selamat membaca !

(Sebuah Pengantar)
Oleh : Mukhlis Yusuf Arbi’

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (Al Quran), dan kamilah yang akan menjaganya”

Pendahuluan

Al-Qur’an semenjak kemunculannya empat belas abad yang lalu sampai sekarang telah menarik perhatian seluruh umat di dunia ini. Sebagai miracle terbesar umat Islam, al-Qur’an tiada henti-hentinya dijadikan objek kajian, diskusi, dan penelitian tidak hanya dikalangan bangsa timur belaka, bahkan kalangan barat pun ikut urun rembug mengeksplorasi al-Qur’an. Kajian-kajian al-Qur’an tidak hanya dilakukan oleh orang-orang seperti at-Thabari, Zamakhsyari dan as-Suyuthi saja. Sederet nama asing pun ikut menghiasi blantika kajian kalamullah ini, sebut saja Arthur John Arberry, Ignaz Goldziher, Joseph Scacht, Louis Massignon dan sederet nama besar lainnya.

Alqur’an telah mengarungi sejarah panjang selama empat belas abad lebih. Dimulai sejak rasul Muhammad menerima pesan ketuhanan berupa al-Qur’an, lalu menyampaikannya kepada para sahabat yang merupakan generasi pertama Islam yang kemudian mereka menghafal dan merekamnya dalam berbagai media ketika itu, sampai pada masa transkripsi kemudian era stabilisasi teks dan pembacaannya dan kemudian masa transliterasinya, al-Qur’an ini masih tetap menarik minat pembacanya karena berbagai keajaiban yang ada di dalamnya.
Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan begitu saja dari sejarah, bukan hanya karena al-Qur’an itu berbicara sejarah, tetapi keotentikan al-Qur’an itu sendiri ditentukan dari pembacaan sejarah secara obyektif dan komprehensif. Mengutip pendapat orientalis Gerd R. Joseph Puin yang mengatakan bahwa satu-satunya cara menjatuhkan nilai sakralitas al-Qur’an adalah dengan cara mengkaji sejarah al-Qur’an (secara subyektif tentunya). Tujuan mereka jelas, berusaha mengendurkan kepercayaan di kalangan Muslim yang mempunyai anggapan bahwa Al-Qur’an yang sampai ketangan kita, hingga hari ini, masih dalam bentuknya yang sempurna, tanpa batas waktu, dan kata-kata Tuhan yang tidak pernah berubah.
Membincang orisinilitas al-Qur’an dalam kurun sejarah yang cukup panjang terkadang membuat kita mengerutkan dahi. Dalam kurun masa selama itu mungkin saja terjadi perubahan-perubahan baik secara eksplisit maupun implisit, disinilah nantinya terlihat pentingnya akan menilik dan menalar sejarah panjang turunnya al-Qur’an. Dimulai dari kondisi sosio-politik, geografis, ragam keagamaan serta corak sastra dan perniagaan serta pemikiran kala itu adalah beberapa langkah awal untuk memulai pembacaan al-Qur’an lewat sejarahnya yang panjang. Tulisan ini mencoba mengurai secara lugas namun singkat benang merah kajian geneologi al-Qur’an yang berkaitan erat dengan kebutuhan akan pemahaman dan kepercayaan yang kuat bahwa verbum dei (kalâm Allâh) ini adalah kitab suci yang berisi hukum, kisah dan prosa yang paling otentik sepanjang sejarah panjang berputarnya bumi ini.
Kajian ini secara sistematis harus dimulai dengan pembacaan akan kondisi sosio-geografis bangsa arab ketika akan diturunkannya al-Qur’an, kemudian melihat segala problematika bangsa arab dengan tradisi-tradisi jahily ketika itu, pula dengan pembacaan secara lugas corak pemikiran dan perkembangan sastra arab saat diturunkannya al-Qur’an. Membincang kondisi arab pasca turunnya al-Qur’an adalah hal yang cukup penting dalam kajian ini. Masa-masa periwayatan, penulisan, kodifikasi, unifikasi serta transkripsi adalah hal-hal yang amat rentan untuk terjadinya beberapa kesalahan penulisan atau bahkan penyelewengan seperti apa yang terjadi dalam kitab perjanjian lama maupun baru. Yang secara keseluruhannya akan menarik kesimpulan apakah al-Qur’an itu layak kita yakini sebagai kitab suci yang paling otentik dalam sejarah panjang kehidupan beragama dipenghujung abad ini.

Mekkah Sebelum Turunnya al-Qur’an

Arab atau yang biasa disebut Jazirah Arab adalah sebuah semenanjung besar di Asia Barat Daya pada persimpangan dua benua yaitu Afrika dan Asia. Kawasan ini dikelilingi Laut merah dan Teluk Aqabah di sebelah barat daya, Laut Arab disebelah tenggara serta disebelah timur laut dikelilingi Teluk Oman dan teluk Persia. Secara politik, kawasan ini meliputi negara Arab Saudi, Kuwait, Yaman, Oman, Uni Emirat Arab, Qatar dan Bahrain.
Secara geografis kawasan ini hampir bisa dikatakan terisolasi. Posisinya yang dikelilingi gurun-gurun pasir dan pegunungan batu yang ganas membuat kawasan ini terlihat amat menyeramkan. Hal ini yang menyebabkan para penduduk asli kawasan semenanjung arab ini lebih terkenal dengan masyarakat nomaden agraris, selalu berpindah tempat untuk mencari mata air ataupun wilayah yang subur untuk memberi makan keluarga dan ternak mereka. Dari sini saja kita bisa melihat sisi lain kehidupan bangsa arab ketika itu yang cukup keras.
Berbicara sejarah al-Qur’an maka secara otomatis akan berbicara sejarah tanah air pertama umat Islam, Mekkah. Adalah merupakan kota perniagaan yang sangat makmur. Pada zaman itu, Mekkah bukan merupakan suatu desa yang terpencil jauh dari keramaian dan kesibukan dunia. Sebagai kota dagang yang ramai dan makmur, hampir memonopoli pusat perdagangan antara Lautan India dan Laut Tengah, penduduk Mekkah ketika itu berhasil menjalin hubungan perdagangan dan diplomatik yang baik dengan suku Arab dan pembesar-pembesar Romawi . Secara fakta sejarah, kota Mekkah adalah satu-satunya kota (selain Madinah) terpenting dalam sejarah bangsa arab. Hal ini dibuktikan dengan gencarnya dua imperium besar ketika itu untuk menguasai kota Mekkah. Sejarah berbicara bahwa menjelang lahirnya Muhammad, penguasa Abisinia di Yaman yaitu Abrahah, melakukan invasi ke Mekkah, tetapi gagal menaklukkan kota tersebut lantaran penyakit cacar yang menimpa bala tentaranya. Ekspedisi penaklukan ini pada awalnya memiliki tujuan yang secara sepenuhnya berada di dalam kerangka politik ketika itu, yaitu upaya Bizantium untuk menyatukan suku-suku Arab di bawah pengaruhnya guna menentang Persia, serta berusaha menghancurkan Ka’bah sebagai pusat ziarah keagamaan di semenanjung Arab. Perebutan kekuasaan yang berkepanjangan antara Bizantium dan Persia, seperti telah diutarakan, mendapat perhatian serius dari orang-orang Arab ketika itu, lantaran relevansi politiknya yang nyata terhadap mereka.
Ka’bah adalah salah satu kebanggaan masyarakat Mekkah selain syair. Mereka menjadikan Ka’bah sebagai pusat kegiatan dan informasi juga sebagai alat propaganda. Bahkan demi mempertahankan Ka’bah mereka rela menukar nyawa hanya untuk kebebasan Ka’bah dan sang batu hitam yang amat diagungkan kala itu. Sebelum al-Qur’an diturunkan peranan suku Quraisy dalam perawatan dan penjagaan Ka’bah amatlah penting. Merekalah yang berkuasa penuh dalam segala hal yang berurusan dengan kiblat kedua umat muslim ini. Nama-nama bani terkenal seperti Hasyim, Umayyah, Makhzum, Asad, Noufal, dan Zahrah adalah kelompok-kelompok yang berwenang saat itu. Namun dalam bukunya yang kontroversial ; Al-Hizbul Hâsyîmiy wa Ta’sîsud Daulatil Islâmiyyah, al-Qummi berpendapat berbeda. Tokoh terpenting dibalik penguasaan Ka’bah adalah Bani Hasyim melalui tangan dingin kepemimpinan Abdul Muthalib, kakek Muhammad. Beliaulah yang berwenang mengatur seluruh kebutuhan Ka’bah dan kebutuhan para pemujanya. Bahkan al-Qummi mensinyalir bahwa Abdul Muthalib-lah tokoh yang berperan penting dalam proses kenabian dan pendirian negara baru di Mekkah, tentunya dengan dukungan penuh klan Hasyim. Hal ini beranjak dari keprihatianan sang kakek akibat keterpurukan dan perpecahan bangsa Hijaz dimana patung-patung berhala yang bertebaran disekitar Ka’bah dan para penyair-penyair sesat menjadi faktor utama perpecahan. Ia amat merindukan kedamaian dan persatuan diantara bangsa Hijaz, dan dari kemampuan olah pikir yang hebat, Abdul Muthalib memutuskan akan pentingnya sebuah negara dengan pemimpin tunggalnya, dan orang yang paling tepat untuk itu haruslah dari keturunannya sendiri.
Perniagaan adalah satu-satunya mata pencaharian yang diandalkan oleh masyarakat Mekkah saat itu, dengan kondisi Mekkah yang disebut dalam al-Qur’an sebagai bi wâdin ghoiri dzî zar’in pertanian adalah hal yang mustahil untuk dikerjakan. Padang-padang tandus, gunung-gunung berbatu dan curah hujan yang hanya turun beberapa kali dalam setahun membuat orang-orang Mekkah hanya mengandalkan berdagang untuk sumber pencaharian mereka. Barang-barang dagangan mereka nantinya ditukar dengan kebutuhan pokok serta pakanan ternak mereka. Itulah sebabnya al-Qur’an memberi porsi yang lebih dalam urusan perdagangan. Penulis sendiri secara pribadi kurang sependapat dengan dasar pemikiran bahwa al-Qur’an itu diturunkan pada konteks masyarakat agraris, walaupun salah satu bukti nyata adalah penamaan surat-surat di dalam al-Qur’an dengan nama-nama seperti al-Baqarah, an-Nahl, al-An’am, al-Ankabut, At-Tiin dan lain sebagainya. Memang pada saat itu perniagaan mulai berkembang pesat, yang pada akhirnya kesemuanya mengarah kepada aqad tukar menukar barang untuk mendapatkan hasil pertanian, tapi mata pencaharian utama mereka adalah berdagang, kalaupun nanti tujuan akhir dari perdagangan itu adalah untuk mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari itu adalah hal yang berbeda.
Dua ratus mil sebelah utara dari Mekkah terdapat tanah air kedua umat Islam, Yastrib atau yang biasa dikenal dengan Madinah. Kondisi daerah ini bertolak belakang dengan kondisi geografis Mekkah yang gersang. Yastrib dikenal sebagai kawasan oase yang subur dan merupakan wilayah pertanian kurma yang banyak dikelola oleh orang-orang yahudi ketika itu. Dsinilah rasul Muhammad mulai menyebarkan sayap ajaran yang diterimanya setelah mengalami penolakan dan permusuhan besar-besaran kaumnya sendiri di kota kelahiran beliau, Mekkah.

Masyarakat Mekkah dan Kehidupan Beragama
Kehidupan ekonomi masyarakat Mekkah pra turunnya al-Qur’an berkembang pesat, jalur perdagangan mereka pun sudah meranjak ke kota Yaman dan Damaskus. Namun jurang sosial pun tidak terelakkan lagi. Yang kaya akan semakin kaya dengan segala atributnya, sementara kaum papa semakin terlihat miris disetiap pojok-pojok pasar. Aksi-aksi sosial adalah hal yang amat begitu dibanggakan ditengah masyarakat Mekkah saat itu. Kedermawanan adalah hal yang prestisius ditengah keganasan dan kegersangan alam.
Namun ditengah pesatnya ekonomi saat itu, kehidupan beragama masyarakat Mekkah tidak sedikit pun mengalami kemajuan yang berarti. Mereka masih berkutat kepada berhala-berhala semacam Latta dan Uzza. Ka’bah saat itu dipenuhi dengan patung-patung kecil sesembahan masyarakat jahily ketika itu. Keyakinan ini sudah mendarah daging turun-temurun dari nenek moyang mereka. Maka ketika Muhammad mulai terang-terangan menyeru ajaran tauhid, adalah hal yang dapat diprediksi munculnya penolakan-penolakan yang hebat dari para status quo. Masyarakat saat itu sudah terlanjur merasa nyaman dengan rutinitas ibadah mereka, juga keyakinan-keyakinan ataupun mitos yang diceritakan turun-temurun. Faktor kebodohan bangsa arab juga amat berperan penting. Al-Qur’an dalam beberapa kesempatan menyindir kebodohan orang-orang arab saat itu, terutama terhadap keyakinan mereka akan kemampuan tuhan-tuhan mereka yang jelas-jelas terbuat dari tanah ataupun batu dimana mereka sendiri yang mengukirnya.
Abdul Muthallib ketika itu merasa miris dengan keadaan bangsa arab, ia merasa tidak nyaman dengan tradisi kebodohan dan berbilangnya jumlah tuhan. Hanya satu yang ia inginkan, sebuah ajaran yang berkiblat pada prinsip ke-esaan. Tidak terkecuali cucu tercintanya Muhammad, setelah sekian lama melihat keadaan kaumnya yang semakin terjerumus dalam kebodohan dan kesesatan, jiwa muda Muhammad bergejolak menolak adat dan kepercayaan kaumnya. Berkali-kali disebutkan dalam sejarah bahwa Muhammad sengaja melakukan penyepian diri untuk merenungi segala permasalahan yang Ia hadapi saat itu. Dan terbukti dalam beberapa buku yang berbicara tentang Sirah Nabawi di saat itulah Muhammad mendapat wahyu untuk yang pertama kali.
Disamping kehidupan beragama yang terbelakang, kaum arab saat itu dikenal dengan tradisi peperangan yang terus menerus. Hanya pada bulan tertentu saja mereka mengharamkan terjadinya peperangan. Jika kita melihat secara seksama ada satu hal yang menjadi faktor terpenting dalam terjadinya peperangan antar kabilah-kabilah arab, yaitu solidaritas kesukuan. Solidaritas kesukuan tidak hanya merupakan karakteristik asli kehidupan ala padang pasir yang terkenal kejam, tetapi juga di kota-kota niaga seperti Makkah ataupun kota pertanian semacam Madinah, tetapi juga bertalian erat dengan ideologi balas dendam. Dalam pola kehidupan di jazirah Arabia saat itu, pada umumnya seseorang yang berasal dari klan kecil akan berupaya menghindar dari mencelakai atau membunuh orang lain, jika orang tersebut berasal dari suatu suku ataupun klan kuat yang pasti akan menuntut balas atas diri dan sukunya. Menurut prinsip ini, bukanlah sebuah keharusan bahwa si pembunuh yang mesti dieksekusi dalam balas dendam, tetapi siapa saja, baik itu dari suku ataupun dari klan si pembunuh yang berstatus sama dengan korban. Bahkan dalam satu kesempatan seringkali terjadi peperangan akibat ketidakpuasan anggota suku yang dibunuh karena sang pembunuh tidak setaraf derajatnya dengan yang dibunuh. Mungkin itulah faktor utama kenapa peperangan di dalam bangsa arab menjadi suatu yang prestisius.
Bahkan secara langsung Muhammad mendapat keuntungan dari tradisi kesukuan ini, ia mendapat perlindungan secara otomatis dari orang-orang yang ingin membunuhnya. Ia bisa bertahan sampai sedemikian rupa dari serangan para oposisinya karena berasal dari salah satu suku terkemuka saat itu, bani Hasyim. Karena berdasarkan prinsip kesukuan, siapapun yang telah menggangu anggota sukunya, adalah suatu kewajiban untuk memberi perlindungan dan membalas penghinaan yang dilakukan .. Tetapi, setelah klan ini menarik perlindungan atasnya pada masa kepemimpinan Abu Lahab yang akhirnya melatarbelakangi kecaman keras al-Quran terhadapnya dalam surat al-Lahab, Nabi melakukan hijrah ke Madinah. Di kota ini beberapa klan tertentu, yang menerima risalah kenabiannya, bersedia memberikan jaminan keamanan kepadanya.

Al-Qur’an Antara Hukum, Sejarah, Dan Sastra; Sebuah Tinjauan Singkat
Tidak dapat dipungkiri lagi, berbicara sejarah pra turunnya al-Qur’an maka perbincangan seputar sastra klasik (jahily) adalah hal mutlak yang perlu didiskusikan. Meminjam istilah Syauqi Dloif bahwa diturunkannya al-Qur’an di tanah arab adalah bukti penghargaan Tuhan terhadap para penyair arab saat itu. Posisi al-Qur’an disamping sebagai kitab hukum dan indeks sejarah adalah berfungsi sebagai bukti kerasulan Muhammad. Dengan keindahan bahasa yang sempat dikatakan oleh salah seorang tokoh Quraisy saat itu Walid bin Mughirah dengan ungkapan Mâ huwa min kalâm al-Insi wa lâ min kalâm al-Jinn al-Qur’an berperan penting dalam perubahan sastra jahily dalam hal yang signifikan. Kegelisahan Abdul Muthalib terhadap kualitas syair-syair arab saat itu yang lebih cenderung cabul dan tidak bermoral seolah mendapat jawaban dari Tuhan melalui penurunan al-Qur’an.
Kesusastraan jahily dalam beberapa dekade lebih menekankan pada nuditas dan seksualitas. Tokoh sastra jahily seperti Imru’ul Qays, yang karya-karyanya diakui keorisinalitasan dan kejeniusannya tetapi ternyata dikutuk oleh Nabi sebagai pemimpin penyair di dalam api neraka, karena kecabulan dan nuditas dalam karya-karyanya yang sangat pornografis. Bahkan al-Qur’an pun ikut mengutuk perilaku para penyair jahili “Penyair-penyair itu diikuti orang-orang yang sesat. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah khayalan dan kata. Dan mereka sering mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan. Kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika didzalimi”. Bisa dibilang, turunnya al-Qur’an adalah sebuah pukulan telak bagi para penyair klasik, al-Qur’an diturunkan seolah-olah sebagai penyaing keulungan para sastrawan jahily. Bahkan disebutkan seorang tokoh penyair bernama Labid bin Rabi’ah sampai memilih pensiun jadi penyair manakala keindahan Alquran sungguh menyapa hati dan hidupnya.
Kualitas pengetahuan bangsa arab sebelum al-Qur’an diturunkan memang berada dalam posisi yang miris. Mereka dikenal sebagai bangsa yang tidak mengenal baca dan tulis pada sebagian masyarakatnya. Tapi disisi lain terdapat segelintir masyarakat jahily yang pintar, bahkan kepintarannya belum dimiliki oleh kebudayaan umat dan bangsa manapun saat itu. Kepintaran ini telah masuk ke segala lini struktur kehidupan. Kepintaran itu adalah dalam hal mencipta karya sastra. Para pengamat sejarah sastra klasik tak ada sedikitpun yang ragu, bahwa tokoh-tokoh penyair jahily seperti Imru al-Qays, Ka’ab ibnu Zuhair, Amru bin Kultsum, al-Harits, Hatim al-Tha’i, Qays bin Mulawwih, Labid bin Rabi’ah, Tharfa bin ‘Abd, Zuhair bin Salma, adalah para penyair ulung sebelum lahirnya peradaban dunia. Karya-karya mereka digantung di dinding Ka’bah sebagai simbol kebesaran dan kebanggaan suku dan ras yang mengalir pada darahnya.
Ibnu Khaldun berpendapat bahwa turunnya al-Qur’an adalah faktor utama kemandegan sastra klasik, al-Qur’an adalah momok buat para penyair kala itu. Namun kalau kita menilik lagi sejarah sastra klasik justru al-Qur’an membuat para penyair semakin berlomba-lomba untuk menyaingi keindahan bahasa al-Qur’an yang mereka anggap sebagai produk Muhammad. Yang pada akhirnya ditarik sebuah kesimpulan bahwa kemampuan mereka masih tidak bisa menandingi keindahan bahasa al-Qur’an. Syauqi Dloif pun membantah pendapat Ibnu kholdun dengan mengatakan bahwa al-Qur’an lah yang berperan penting dalam penyelamatan sastra arab, bahkan Nabi dan para sahabatnya juga ikut melestarikan syair-syair klasik, tentunya berupa syair-syair tandingan terhadap orang-orang musyrik. sejarah mencatat, bahwa Nabi beserta para khalifahnya kemudian terus mendorong para penyair agar terus berpuisi tetap dilakukan setelah mengetahui penyair Labid bin Rabi’ah melakukan aksi mogok menjadi penyair setelah turunnya QS As-Syu’ara, selama mereka masih berpegang pada pendirian yang pertama, yakni mempertahankan nilai-nilai lama yang dibenarkan oleh Islam dan nilai-nilai baru yang dibawa oleh ajaran Islam.
Ada satu kaitan menarik dimana al-Qur’an diposisikan tidak sebagai kitab hukum an sich tetapi juga sebagai indeks sejarah dan induk sastra, kenapa demikian ? karena dari sekian banyak ayat yang terdapat dalam al-Qur’an hanya sekian ratus ayat saja yang berbicara tentang hukum, selebihnya hanyalah berisi cerita-cerita masa lampau yang terkadang mengerutkan dahi tentang kevaliditasannya, hal ini seperti apa yang dikemukakan oleh Ahmad Khalafullah dalam bukunya yang terkenal al-Fann al-Qashasî fi al-Qur’an al-Karîm , Khalafullah cenderung beranggapan bahwa cerita-cerita yang terdapat dalam Alquran bukanlah dipahami sebagai sejarah belaka, sebaiknya, merupakan cerita yang bercorak sastra.. Disamping itu al-Qur’an juga bisa dikatakan sebagai kitab induk sastra karena sedemikian rumit dan susahnya memahami kata-demi kata yang terdapat didalam al-Qur’an sehingga muncul karya-karya para cendikiawan Islam dalam kajian-kajian lingustik ala al-Qur’an yang sudah tak terhitung lagi banyaknya.
Membincang sejarah al-Qur’an dalam tatanan sastra jahily adalah berbicara sejarah yang amat panjang. Fungsi al-Qur’an sebagai al-Mu’jizat al-Kubrâ terasa lebih kentara dan bermakna ketika bersinggungan dengan nilai-nilai sastra klasik. Keindahan bahasa, kedalaman makna ataupun ketidakmampuan manusia dalam memahami beberapa kata tertentu dalam al-Qur’an justru semakin memberi keyakinan bahwa al-Qur’an tidak hanya berupa sebuah karya sastra yang agung, tetapi ia adalah buah karya sang Pencipta.

Kesimpulan
Menyoal sejarah al-Qur’an adalah ibarat menyusun ensiklopedia panjang tentang Islam semenjak pra turunnya al-Qur’an sampai pada masa kini. Karena berbicara sejarah al-Qur’an secara otomatis membicarakan sejarah panjang perjalanan umat Islam dari masa ke masa. Dimulai dari masa pra Islam dimana saat itu betebaran penyair-penyair jahily ulung, peperangan kabilah dimana-mana, kemerosotan moral dan kebodohan beragama sampai pada era kodifikasi teks al-Qur’an , pada posisi inilah al-Qur’an berada dalam posisi yang rentan untuk diselewengkan. Pembahasan pun tidak sampai di situ, keaslian penulisan al-Qur’an ala rasm usmani juga harus mendapat perhatian yang lebih. Bahkan pembahasan seperti Nasikh Mansukh, Asbab al-Nuzul, Makki Madani, Qira’at, dan periwayatan hadist seputar al-Qur’an diturunkan dalam 7 dialek adalah hal mutlak yang perlu diikutkan. Itulah mengapa para orientalis begitu giatnya mengkaji sejarah panjang perjalanan al-Qur’an semata-mata untuk mencari celah dan cela agama yang sudah berdiri lebih dari 14 abad ini. Karena keaslian agama yang kita anut, amat sangat ditentukan pula dengan keaslian kitab suci yang kita miliki.
Dalam tulisan singkat ini memang sengaja tidak disinggung beberapa hal yang terkait diatas, disamping itu pula perdebatan-perdebatan ulama klasik seputar jumlah ayat, nama surat, ataupun beberapa riwayat yang yang berisi tentang surat-surat yang tidak dicantumkan lagi dalam al-Qur’an edisi cetakan Mesir sekarang. Juga cerita seputar penulisan awal al-Qur’an dan kajian-kajian seputar mushaf yang dimiliki para sahabat juga seringkali menjadi sorotan utama dalam menyoal keaslian al-Qur’an. Penulis berharap pada kajian selanjutnya ada pembahasan-pembahasan lanjutan tentang hal-hal tersebut diatas, karena konheren dalam kajian sejarah al-Qur’an adalah hal yang mutlak dalam rangka pemahaman sejarah secara komprehensif. dan qualified. Selamat membaca !

Metodologi Penafsiran al-Qur’an

Metodologi Penafsiran al-Qur’an
( Sebuah Pengantar )
Oleh : Mukhlis Yusuf Arbi’

Iftitah
Wahyu dalam Islam menjadi pembahasan utama dalam memahami maksud-maksud Tuhan. Tidak lain karena wahyu merupakan satu-satunya legal medium antara Tuhan dan sang utusan dalam proses penyampaian risalah dan kandungan wahyu yang dikehendaki-Nya kepada seluruh umat manusia. Wahyu sering disebut juga sebagai firman Tuhan. Kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul seperti Taurat, Zabur, Injil dan al-Qur’an ataupun kitab-kitab shuhuf lainnya adalah wahyu dari Allah, disebut wahyu karena kandungan ataupun substansinya adalah murni turun dari Allah Swt. Dengan bahasa singkat, bahwa Allah adalah sang pemberi wahyu dan para utusan-Nya adalah para penerima wahyu yang mempunyai konsekuensi logis untuk menyebarkan ajaran yang dikehendaki-Nya.

Wahyu adalah wujud interaksi antara sang pencipta dan utusan-Nya; pemberi dan penerima. Wahyu terdiri dari dua macam. Tertulis dan tidak tertulis. Wahyu tak tertulis adalah wahyu-wahyu yang diberikan kepada para nabi-nabi yang tidak diperintahkan untuk menyebarkan ajarannya. Sedang wahyu tertulis adalah kitab atau shuhuf yang diturunkan kepada para rasul yang ditugaskan untuk mengajarkan dan menyebarkan kepada seluruh umatnya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya.
Yang menjadi titik permasalahan disini adalah perbedaan keterikatan antara wahyu yang tak tertulis dan tertulis. Wahyu tak tertulis adalah merupakan wahyu yang bersifat pribadi, wahyu yang khusus ditujukan kepada sang penerima saja. Entah itu berhubungan dengan pola kehidupan sehari-hari sang penerima ataupun hal-hal lain yang tidak diketahuinya. Wahyu seperti inilah yang tidak memerlukan adanya proses tafsir dan takwil yang panjang, karena sekali lagi hanya cukup berhubungan antara sang Pemberi dan penerima. Berbeda kasusnya dengan wahyu tertulis. Wahyu yang berupa kitab atau lampiran-lampiran (shuhuf) yang pada umumnya ditujukan kepada manusia secara umum dengan berbagai kondisi dan pola pikir yang berbeda. Sehingga sangat mungkin bahkan menjadi sebuah keharusan akan munculnya berbagai macam penafsiran yang beragam. Dalam beberapa kitab tafsir bahkan sering kita temukan diskusi-diskusi ataupun perdebatan kecil diantara para sahabat tentang makna kata tertentu dalam al-Qur’an. Konklusinya, di zaman sahabat saja yang notabene masih hidup berdampingan dengan Rasulullah sudah muncul perbedaan dalam memahami kata-kata di dalam al-Qur’an apalagi kita yang hidup 13 abad setelah rasul Muhammad menerima wahyu untuk yang pertama kali. Satu jawaban singkat dan logis dari penafsiran yang beragam ini adalah ketidaksamaan kemampuan manusia dalam memahami substansi wahyu. Dalam hadist disebutkan bahwa, “kami para nabi diperintah untuk berkata kepada manusia (menyebarkan ajaran-Nya) sesuai dengan tingkatan kemampuan berpikirnya”. Maka, al-Qur’an sebagai satu-satunya kitab suci yang terakhir yang ditujukan kepada seluruh umat manusia dan segala era harus rela untuk menerima segala penafsiran dan pentakwilan yang beragam dari berbagai manusia dengan berbagai macam tipologi pemikirannya. Karena nash al-Qur’an yang cukup singkat dan terbatas harus selalu digali makna dan kandungannya untuk menjawab segala problematika kemanusiaan dan tantangan globalisasi zaman.

Definisi Etimologis Tafsir dan Takwil

Dalam proses memahami makna dalam al-Qur’an kita mengenal dua istilah penting, tafsir dan takwil. Hampir di semua buku tentang kodifikasi tafsir, penulis menemukan keseragaman akan keterikatan antara tafsir dan takwil. Membahas tafsir ataupun metode dalam penafsiran maka serta merta akan membahas tafsir dan takwil itu sendiri. Karena memang dua hal ini adalah pintu awal menuju penafsiran makna teks al-Qur’an.

“Makna” dari sebuah ungkapan ataupun perkataan adalah tujuan atau maksudnya. Sedang makna tafsir sendiri kembali pada arti menjelaskan dan menyingkap. Asal kata tafsir dalam bahasa Arab kembali kepada dua kata yaitu fa-sa-ra dan sa-fa-ra. Jika dilihat dari kata fa-sa-ra, maka tafsirah berarti sepercik air seni yang diamati dan diteliti oleh seorang dokter. Karena dengan mengamati dan meneliti kandungan zat yang berada pada air seni itu dapat menyingkap sebab “illah” sakit orang tersebut. Dengan demikian makna kata tafsir berdasarkan asal kata fa-sa-ra adalah kasyf (menyingkap) asal illat (penyebab) penyakit yang dalam kaitan masalah ini memerlukan obyek dan analisa yang tepat. Maka, tidak setiap orang bisa melakukan tugas tersebut. Karena orang yang dapat melakukan tafsir hanyalah dokter ataupun orang yang memiliki keahlian dalam mendiagnosa penyakit. Logisnya, seorang mufassir al-Quran adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk menyingkap makna ayat yang terkandung didalamnya. Jika dilihat dari asal kata sa-fa-ra, maka tafsir juga berarti penyingkapan. Dikatakan asfarat al-mar’ah sufûran, jika dia menyingkap kerudungnya dari wajahnya. Atau berarti kejelasan atau bercahaya. Dikatakan asfara as- subh idzâ adhâa, jika matahari bersinar. Berdasarkan dua makna asal kata tafsir diatas, dapat disimpulkan dengan mudah bahwa makna tafsir adalah penyingkapan makna (kasyf). Dan di dalam al-Qur’an kata tafsir digunakan dengan menunjukkan arti “al-bayân” atau penjelasan, sebagaimana firman Allah Swt. “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.”

Jika kata tafsir disebut sekali dalam al-Qur’an, maka kata takwil disebut sebanyak 17 kali. Maka, secara otomatis kata takwil lebih sering dipakai dalam al-Qur’an daripada tafsir. Hal ini mungkin disebabkan karena kata takwil lebih akrab dikenal oleh kebudayaan sebelum islam yaitu yang berhubungan dengan tafsir mimpi atau disebut dengan ta’wîl al-ru’yah atau al-ahlâm. Jika kita telaah lebih teliti lagi kata ta’wîl dalam al-Qur’an seperti dalam ayat cerita nabi Yusuf, maka makna kata takwil lebih dekat dengan takwil mimpi. Tetapi dalam ayat lain disebutkan “Yusuf berkata: Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan takwilnya (jenis makanan itu) sebelum itu sampai kepadamu.” Takwil disini mempunyai makna memberitahukan kejadian sebelum terjadi, Seperti kisah antara nabi Musa dan Khidir “Aku akan memberitahumu takwil (tujuan) perbuatan yang kamu tidak dapat bersabar terhadapnya” (QS. Al-Kahfi : 87).

Definisi Terminologis Tafsir dan Takwil

Jika kita telaah makna etimologis antara tafsir dan takwil, maka terkesan dipahami bahwa tafsir adalah penyingkapan makna melalui media atau perantara tertentu untuk sampai pada makna tertentu. Berbeda dengan takwil, karena takwil tidak selamanya harus melalui perantara tersebut. Bahwasanya ada perbedaan penting antara keduanya, yaitu bahwa tafsir selalu membutuhkan perantara penafsiran, yaitu media yang menjadi titik tolak seorang mufassir untuk sampai pada kejelasan makna yang diinginkan. Sementara takwil adalah proses yang tidak selamanya membutuhkan media ini, tapi kadang berlandaskan pada gerakan akal ijtihady semata dalam menyingkap asal fenomena. Dengan kata lain hubungan langsung yang mencerminkan antara subyek dan obyek.

Berdasarkan hal di atas, hampir sebagian besar ulama yang mendefinisikan tafsir sebagai ilmu tentang turunnya ayat, surat, kisah-kisah, dan isyarat-isyarat di dalamnya, kemudian tentang urutan makkiyah dan madaniyahnya, muhkam dan mutasyabbihnya, nasikh dan mansukhnya, ‘am dengan khosnya, mutlak dengan muqayyadnya sertas mujmal dengan mufasshalnya. Dan secara faktual, tafsir terlihat lebih dekat dengan aspek diluar nash yang berhubungan dengan asbâb al-nuzûl, nasikh-mansukh, makki-madani, ‘am-khos, mutlaq-muqayyad dan sederet perangkat lainnya. Cara mengetahui semua perangkat ilmu yang disebut diatas hanyalah dengan riwayah. Dalam tafsir, seorang mufassir tidak memiliki ruang ijtihad yang cukup luas dalam memahami maksud nash. Secara teoritis dan praktis, dia harus memahami nash berdasarkan perangkat tafsir; baik itu hadist, perkataan sahabat atau tabi’in yang dianggap dapat mempresentasikan makna kandungan nash. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tafsir adalah pintu menuju takwil.

Takwil menurut ulama ushul mempunyai definisi yang beragam. Meskipun berbeda dalam hal mendefinisikan takwil, tapi pada substansinya adalah sama. Ibnu Qudâmah berpendapat bahwa takwil adalah istilah dari kemungkinan yang diperkuat oleh dalil sehingga dengan itu menjadi sangat mungkin (aghlab al-dzan) dari makna yang ditunjukkan oleh dzahirnya. Atau bisa disebut serupa dengan pengalihan lafadz dari makna sebenarnya kepada makna metafora (majâz). Dapat diambil satu kesimpulan-berdasarkan pendapat ini- bahwa takwil dan majâz bertemu dalam satu titik persamaan, yaitu pengalihan makna lahiriyah ke “makna dalam” sesuai konteks.

Takwil dalam studi ilmu al-Qur’an juga memiliki banyak definisi terminologi yang beragam. Dalam satu pendapat disebutkan bahwa tafsir berdasarkan pada ilmu riwayah sedang takwil lebih terfokus pada ilmu dirayah. Takwil digunakan pada hal-hal yang bersifat ketuhanan, sementara tafsir pada selainnya. Tafsir lebih umum daripada takwil, sebab tafsir umumnya terpaku pada ‘kata” sementara takwil terfokus pada “makna.” Dari sekian pendapat ini, penulis lebih cenderung memilih kepada pendapat pertama yang mengatakan bahwa takwil adalah ilmu untuk menyingkap makna nash yang berdasarkan pada pengetahuan (dirâyah) penakwil. Takwil lebih berkaitan pada pengambilan kesimpulan, sedangkan tafsir lebih cenderung pada nash dan riwayat. Dalam perbedaan ini, terdapat dimensi pokok proses penakwilan, yaitu peranan mufassir dalam membaca teks dan menangkap maknanya. Tetapi, peranan penakwil dalam menghadapi teks bukanlah peran mutlak yang memungkinkannya dapat memaknai nash sesuai hawa nafsunya serta kecenderungan ideologis semata. Bahkan takwil harus berlandaskan pada beberapa studi pokok yang berhubungan dengan nash sebagaimana dalam tafsir.

Tafsir dan takwil adalah dua pintu dalam memahami makna dan kandungan al-Quran. Dua hal ini mempunyai karakteristik yang berbeda. Jika tafsir dalam makna bahasanya berarti menyingkap, maka tafsir adalah piranti dalam menyingkap makna al-Qur’an dengan melalui perangkat-perangkat lunak yang dibutuhkan. Sedangkan takwil menurut makna etimologinya bermakna mengembalikan. Maka secara singkat dapat kita pahami bahwa takwil adalah usaha untuk mengembalikan makna nash kepada makna aslinya. Takwil harus selaras dengan tafsir karena tafsir adalah pintu gerbang menuju takwil. Jika tafsir menyingkap makna luar nash, maka takwil berusaha menyingkap spirit di dalam nash.

Klasifikasi Tafsir; Studi Kritis Tafsir bi al –Ma’tsur

Semenjak Rasulullah Wafat, kajian tafsir cukup mendapat perhatian dan berkembang abad demi abad sebegitu pesat dalam tradisi keilmuan Islam. Kajian ini terkemas dan tertulis rapi dalam berbagai klasifiikasi ilmu dengan beragam corak penulisan, baik berupa syair, prosa, karya ilmiah berjilid-jilid maupun sekedar komentar-komentar kecil (Hâmisy) ataupun berupa Syarh karya-karya pemikir terdahulu. Konsekuensi logisnya, kajian dan karya-karya tafsir yang beragam itu bisa diklasifikasikan ke dalam beberapa pola dan sarat untuk dikritisi. Para ulama telah banyak yang mencoba mengklasifikasikan pola ataupun corak (meminjam istilah Quraish Shihab) penafsiran al-Qur’an dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Ada yang menyentuh pokok persoalan dan ada juga yang hanya bersinggungan dengan kulitnya saja.
Dilihat dari metode penafsiran dan coraknya, tafsir digolongkan menjadi dua, yaitu; pertama, tafsir bi al-ma’tsur dan kedua, tafsir bi al-ra’yi. Pertama, tafsir bi al-ma’tsur. Terma tafsir bi al-ma’tsur oleh para ulama dimaknai dengan tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Sunnah, Qaul Shahâbî, atau Qaul Tabi’î. Corak dan pola tafsir ini bisa dibilang murni periwayatan, walaupun dalam beberapa kitab tafsir sejenis, masih sering kita temukan pendapat-pendapat pribadi yang bersifat ideologis pribadi dan agak sedikit keluar dari terma yang diusung lewat kitab tafsir dengan corak periwayatan ini. Hal inilah yang kemudian banyak memunculkan anggapan dan ungkapan-ungkapan yang skeptis terhadapa tafsir jenis ini. persoalannya bermula dari ketidak konsistenan sang pengarang itu sendiri dalam mengawal terma bi al-ma’tsur.

Dr. Su’ud Badr dalam bukunya Tafsir al-Shahaabat menceritakan dengan singkat dan jelas tentang geneologi metode tafsir jenis ini. Bahwa corak periwayatan ini muncul dari kegelisahan para sahabat ketika sudah final tidak menemukan penjelasan Nabi saw, mereka merujuk kepada penggunaan bahasa dan syair-syair arab. Bahkan setelah masa sahabat pun, para tabi’in dan tabi’it at-tabi’în masih mengandalkan metode periwayatan dan referensi kebahasaan seperti pada zaman sahabat.

Akan tetapi Dr. Jamal al-Banna dalam salah satu bukunya, mengkritisi dengan gamblang akan kelemahan metode riwayat ini. Beliau menggaris bawahi bahwa tafsir-tafsir jenis ini terlalu sering memakai riwayat-riwayat yang tidak berdasar atau dengan kata yang lain, riwayat palsu. Bahkan banyak sekali isra’illiyât atau kisah-kisah tak berdasar yang bercerita seputar penciptaan adam dan hawa, surga dan neraka, kisah-kisah peperangan, kepahlawanan dan sebagainya yang berasal dari periwayatan-periwayatan taurat ataupun yang lain yang sudah banyak sekali mengalami perubahan dan penyelewengan. Ada satu pendapat yang dikutip Jamal al-Banna, bahwa kecenderungan-kecenderungan itu muncul bermula dari kesulitannya sang mufassir dalam mencari periwayatan yang mempunyai nilai validitas tinggi,. Atau dengan bahasa singkat, minimnya periwayatan yang murni berasal dari Rasulullah itu sendiri.

Dr. Quraish Shihab dalam salah satu tulisannya di jurnal Paramadina menyebut secara rinci akan kelemahan metode penafsiran riwayat ini; “Di sisi lain, kelemahan yang terlihat dalam kitab-kitab tafsir yang mengandalkan metode ini adalah: (a) Terjerumusnya sang mufasir dalam uraian kebahasaan dan kesusasteraan yang bertele-tele sehingga pesan-pokok Al-Quran menjadi kabur dicelah uraian itu. (b) Seringkah konteks turunnya ayat (uraian asbab al-nuzul atau sisi kronologis turunnya ayat-ayat hukum yang dipahami dari uraian nasikh/mansukh) hampir dapat dikatakan terabaikan sama sekali, sehingga ayat-ayat tersebut bagaikan turun bukan dalam satu masa atau berada di tengah-tengah masyarakat tanpa budaya. Bahwa mereka mengandalkan bahasa, serta menguraikan ketelitiannya adalah wajar. Karena, di samping penguasaan dan rasa bahasa mereka masih baik, juga karena mereka ingin membuktikan kemukjizatan Al-Quran dari segi bahasanya. Namun, menerapkan metode ini serta membuktikan kemukjizatan itu untuk masa kini, agaknya sangat sulit karena –jangankan kita di Indonesia ini– orang-orang Arab sendiri sudah kehilangan kemampuan dan rasa bahasa itu.” Tafsir jenis ini banyak sekali, di mulai dari Tafsir Ibnu Abbas, At-Thabari, As-Suyuthi, Tafsir Ibnu Katsir dan lain sebagainya.

Tafsir bi al-Ra’yi; Upaya Menjawab Problematika Kehidupan

Problematika penafsiran al-Qur’an dengan metode riwayat hampir sebagian besar berangkat dari “ketidakajegan” para mufasir dalam menyampaikan maksud-maksud tersirat di balik teks-teks Ilahiyah. Dalam ranah metodologikal, para penafsir nalar mencoba menggunakan pelbagai macam perangkat tafsir yang disesuaikan dengan kecenderungan mereka masing-masing dalam disiplin ilmu tertentu untuk berusaha menjawab segala problematika kehidupan dan kegelisahan intelektual mereka akan stagnasinya kajian tafsir bi al-ma’tsur. Di antara mereka ada yang memusatkan analisis tafsir atas al-Qur’an melalui metodologi spesifik disiplin keilmuan, seperti gramatika (an-Nahwu), al-Balâghah, I’jâz, fiqh, filsafat dan cabang disiplin keilmuan lainnya. Sebagai contoh kitab al-Kasysyâf racikan az-Zamakhsyari al-Khawarizmi yang menyusun bangunan tafsirnya di atas epistema ilmu balaghâh, Fakhruddin al-Razi mampu menelurkan tafsîr Mafâtihu al-Ghâib yang diciptakan atas dasar ilmu filsafat yang dikuasainya. Tafsîr al-Jâmi’ li ahkâmi al-Qur’ân berhasil digagas al-Qurthubi yang ditilik dari sudut pandang fikih dan hukum-hukum agama serta beberapa form tafsir lain yang dicoba dituangkan oleh segelintir intelektual muslim lainnya.

Corak dan pola tafsir ala nalar ini banyak sekali disebutkan dalam semua karya kodifikasi ilmu-ilmu Qur’an dan tafsir. Bertolak dari ini, penulis secara pribadi mengikuti pendapat al-Farmawi bahwa corak ini terbagi menjadi empat pendekatan metodologi, yaitu tahliliy, ijmaliy, muqaran dan mawdhu’iy.

Yang paling popular dan sering menjadi metode landasan para ahli tafsir sekarang adalah dua metode saja; pertama, metode tahlîly. Adalah satu diantara beberapa metode dimana mufassirnya berusaha menjelaskan makna dan substansi ayat demi ayat, surat demi surat sesuai dengan urutan ayat dan surat di dalam mushaf. Kebanyakan mufassir dalam ranah metode ini lebih cenderung menggunakan keahlian masing-masing dalam berbagai disiplin ilmu. Pandangan ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Mahmud Syaltut bahwa perbedaan penafsiran al-Qur’an bergantung pada ragam keberbedaan latar belakang disiplin ilmu yang dimiliki para mufassir itu sendiri.

Dalam buku Tafsîr al-Qur’ân al- Karîm baina al-Quddâmi wa al-Muhadditsîn, Jamal al-Banna menjelaskan secara detail satu persatu tafsir ala nalar yang dikarang oleh para intelektual muslim yang hidup pada abad 20. Sebut saja Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dengan al-Manârnya, Thahir bin ‘Asyur dengan at-Tahrir wa at-Tanwîrnya, ataupun Syeikh Mutawalli al-Sya’rawi dengan tafsir al-Sya’rawinya. Terhadap al-Manar, Jamal memberikan komentar bahwa tafsir ini memiliki nilai sosial budaya, bisa dibilang kalau kita merunut sejarah, bahwa Abduh diyakini pernah mengaji tafsir dengan sang guru Jamaluddin al-Afghani,.Satu hal yang dapat penulis pahami adalah kemungkina mengalirnya jiwa reforrmis dalam diri Abduh akibat pengajaran dan penanaman doktrin-doktrin akan pembaharuan umat serta ketegasan sang guru bahwa Islam pada dasarnya terbuka akan perubahan dan perkembangan zaman. Tafsir ini bermula dari tulisan-tulisan tafsir al-Qur’an Muhammad Abduh dalam jurnal yang diterbitkannya al-Manar, kemudian dialih bukukan dan diteruskan proyek besar ini oleh sang murid tercinta Rasyid Ridha. Disamping itu, Jamal juga memberi kritikan yang cukup panjang akan fenomena israillîyyat dalam tafsir al-Sya’rawi. Fenomena yang banyak sekali ditemukan dalam tafsir-tafsir riwayat karya ulama salaf. Satu hal yang dapat penulis pahami dan maklumi adalah proses pembuatan kitab itu sendiri tidaklah murni hasil tulisan sang syeikh, tetapi hasil copy paste dari setiap pengajian beliau Nûr ‘ala al-Nûr yang disiarkan ditelevisi dan radio hampir setiap hari. Dari situ kemudian muncul inisiatif untuk membukukan hasil pengajian beliau ini.
Kedua, metode maudû’î. Adalah metode di mana mufasirnya berupaya menghimpun ayat-ayat Al-Quran dari berbagai surah dan yang berkaitan dengan persoalan atau topik yang ditetapkan sebelumnya. Kemudian, penafsir membahas dan menganalisis kandungan ayat-ayat tersebut sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Keunggulan dari metode ini menurut hemat penulis adalah lebih pada nilai efisiensinya saja. Terkadang pembaca merasa malas kalau harus mengikuti ayat demi ayat untuk mencari sumber jawaban akan sebuah permasalah. Mungkin beranjak dari fenomena inilah metode mawdû’î cukup banyak dipakai oleh para mufassir dan ahli-ahli ilmu lainnya dalam menyebarkan dan mengamalkan tujuan diturunkannya al-Qur’an itu sendiri. Satu contoh, tafsir tentang ayat-ayat kauniyah oleh Dr. Yusuf Al-Najjar ataupun karya-karya intelektual muslim lainnya.

Hermeneutika; Sebuah Renungan Sejarah Singkat
Dewasa ini muncul berbagai disiplin ilmu dalam mengkaji kitab-kitab Tuhan. Diantaranya adalah hermeneutika. Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Diharapkan dapat selalu up to date terhadap perubahan zaman dan selalu elastis terhadap keragaman budaya, hingga keberaadaannya dapat dirasakan sebagai dinamo penggerak kemajuan masyarakat. Lantas, apakah untuk memahami al-Qur’an membutuhkan hermeneutika? Inilah permasalahan yang akan disinggung sedikit oleh penulis dalam tulisan penutup ini.
Sebelum lebih jauh melangkah, alangkah baiknya jika kita menyatukan opini dan pemahaman kita terhadap hermeneutika. The new Encyclopedia Britannica menulis bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang interpretasi Bible. Adapun tujuan dari Hermeneutika itu sendiri adalah menemukan nilai kebenaran dalam Bible. Dalam sejarahnya Hermeneutika muncul pada abad petengahan dengan lahirnya seorang tokoh pemikir besar dalam bidang itu, yaitu Thomas Aquinas (1225-1274), karyanya yang menumental berjudul Summa Theologica menekankan pentingnya interpretasi Bible secara litertal.
Pada abad ke-18 tokoh pemikir liberal kristen Johan Solomo Semler mengemukakan gagasannya bahwa hermeneutika mencangkup banyak pembahasan seperti retorika, tata bahasa, logika, sejarah, penerjemahan dan kritik terhadap teks. Menurutnya tugas utama hermeneutika adalah memahami teks sebagaimana dimaksudkan oleh para penulis teks itu sendiri, sehingga pemahaman seiring dan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh para penulis teks.
Jadi pada awalnya hermeneutika dipakai untuk menemukan nilai-nilai kebenaran dalam perjanjian lama (old testament) atau pun perjanjian baru (new testament). Mengapa para Teolog dan agamawan kristen memerlukan hermeneutika dalam mengkaji kitab-kitab mereka? Karena mereka menemukan big problem dalam memahami dan menginterpretasikan serta mencari kebenaran sejati dalam kitab suci mereka. Selama ini masih mucul pertanyaan besar dan belum bisa dijawab dengan pasti. Yaitu, apakah secara harfiah Bible adalah kalam Tuhan, atau perkataan manusia? Aliran yang mengakui bahwa Bible itu adalah kalam Tuhan dan tidak ada unsur perkataan manusia, dianggap terlalu ekstrim, dan bahkan tidak rasional. Banyak kalangan agamawan yang masih menganggap Bible sebagai kitab yang masih dipertanyakan penciptanya. Seperti Richard Elliot Friedman dalam bukunya “Who wrote the Bible” menyatakan bahwa hingga kini, siapa yang menulis kitab tersebut masih merupakan misteri yang belum terungkap dengan pasti.
Karena Bible memiliki banyak penulis, dan itupun belum pasti kebenarannya. Bahkan terjadi banyak perbedaan dalam tulisan-tulisan itu, serta tidak ada redaksi Bibel yang diakui original, maka menemukan titik temu “kebenaran” dalam Bibel sangat sulit. Prof M. Metzger dalam bukunya “A Textual Commentary on the Greek New Testament” menyatakan bahwa para penafsir bible menemukan beberapa permasalahan dalam menginterpretasikan Bible diantaranya yaitu; Pertama, tidak adanya dokumen Bible yang original saat ini. Kedua, bahan yang ada bermacam-macam dan berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Tentunya kondisi tersebut mempersulit kaum intelektual agamawan dalam menelaah Bible dan menemukan nilai kebenaran murni. Nah, dari semua problem tersebut, maka hermeneutika diperlukan untuk “mencari” celah dalam memahami Bible yang telah menjalani lika-liku dan gesekan paradigma kehidupan selama berabad-abad dengan harapan, dapat mengungkap nilai kebenaran murni dari kitab suci itu.
Berbeda dengan Al-Qur’an, yang diakui dan terbukti sebagai karya tuhan yang tidak dimasuki oleh pendapat-pendapat manusia dalam redaksi aslinya. Perjalanan Al-Qur’an dalam sejarahnya, dari Jibril kepada Muhammad kemudian berlanjut kepada para sahabat, Tabiin hingga sampai di tengah-tengah kita, telah tertulis dengan jelas dalam buku-buku Ulum Al-Qur’an karya para ulama turast, tidak ada “korupsi” redaksi yang terjadi. Jelas dalam point ini terdapat perbedaan signifikan antara Al-Qur’an dan Bible. Al-Qur’an yang menyandang gelar sebagai kitab suci dan sekaligus mukjizat terbesar Rasul ini, mengandung makna yang luas dalam setiap ayatnya. Bahkan jika mengkajinya hingga tujuh keturunanpun, kita masih belum bisa menyingkapkan seluruh true value yang dapat dijadikan sumber kesejahteran manusia. Kalau boleh meminjam istilah Cak Nur, bersifat open ended, artinya selalu terbuka dalam menginterpretasikannya sehingga tidak lapuk dimakan usia dan selalu compatible dalam setiap zaman.
Nah, untuk membumikan ayat-ayat Tuhan yang terangkum dalam kitab suci Al-Qur’an tersebut, tidak diperlukan lagi apa yang disebut hermeneutika. Karena penggunaan hermeneutika kepada Al-Qur’an merupakan penempatan dan penggunaan yang salah. Tafsir dan Ta’wil adalah sarana tepat yang dapat dijadikan “jembatan” dalam merangkai pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an.
Penutup

Satu hal yang perlu digaris bawahi disini adalah begitu luasnya kajian pemikiran ataupun studi-studi tentang al- Qur’an membuat kekaguman penulis akan keagungan dan keluasaan samudra ilmu al-Qur’an itu sendiri. Hal yang amat jarang ditemukan -untuk sekedar malas menyebut tidak ada- pada kitab suci umat yang lain. Penulis meyakini bahwa sampai kapan pun kajian-kajian al-Qur’an akan terus hidup dan memunculkan para intelektual-intelektual muslim baru baik kontoversial secara pemikiran maupun tidak yang akan selalu dan semakin membuktikan keajaiban al-Qur’an. Penulis sengaja tidak menyinggung sedikit pun pemikiran-pemikiran akan studi al-Qur’an kontemporer semacam Arkoun, Nasr Hamid, Amin al-Khouli, Muhammad Syahrur, dan sederet pemikir Islam lainnya karena penulis berharap akan ada diskusi-diskusi lanjutan mengenai kajian para pemikir liberal ini, dan semata-mata karena keterbatasan penulis sendiri dalam memahami teks-teks asli karya mereka. ‘ala kulli hâl selamat berdiskusi !

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Quran dan Terjemahannya, Mujamma’ Mâlik Fahd, Madinah, 2005
2. Jamal al-Banna, Tafsir al-Qur’an al-Karîm baina al-Quddamî wa al-Muhadditsîn, Dar al-Fikr al-Islamy, Kairo, 2003
3. al-Dzahabî, Muhammad Hussein, al-Tafsir wa al-Mufassirûn, Kairo, Dar al-Hadist, 2005
4. al-‘Ak, Kholid Abdurrahman, Ushûl al-Tafsir wa Qawaiduhû, Beirut, Dar al-Nafâis, 2003
5. Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Tafsir al-Manâr, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa tahun
6. Al-Thabarî, Ibn al-Jarîr, Jami’ al-Bayân ‘an Ta’wil Âyi al-Qur’an, Beirut, Dar al-Fikr, 2001
7. Abu Su’ud Badr, Abdullah Dr., Tafsir al-Shahabat, Kairo, Dar Ibn Hazm, 2000
8. Zuhdi Muhdor Ahmad, Attabik Ali, Kamus al-Ashry, Yogyakarta, Yayasan Ali Maksum, 2004
9. Abu Syahibah, Muhammad bin Muhammad Dr., al-Isrâilliyât wa al-Maudû’ât Kutub al-Tafsîr, Kairo, Maktabah al-Sunnah, 2006
10. Al-Zarkasyi Muhammad bin Abdullah, Badruddin, al-Burhân fî ‘Ulûm al-Qur’an, Kairo, Maktabah Dar al-Turast, tanpa tahun
11. Kholifah Muhammad, Ibrahim Abdurrahman Dr, Dirâsât fî Manâhij al-Mufassirîn, tanpa penerbit dan tahun
12. Rasyid Ridha, Muahammad, al-Wahyu al-Muhammadî, Kairo, Majlis al-A’la Li al- Syu’un al-Islâmiyyah, 2004

ISLAM DAN PERDAMAIAN

ISLAM DAN PERDAMAIAN
(Melacak Akar-Akar Kekerasan dalam Agama)

Oleh : Mukhlis Yusuf Arbi

Penulis sempat kaget, ketika Amiruddin ketua Fismaba Mesir memperlihatkan sebuah sms dari Indonesia yang isinya meminta beberapa alumni MMA untuk mengisi beberapa kolom sebuah majalah sekolah termasuk penulis sendiri. Sempat menolak juga ketika “dipaksakan” dengan judul Islam dan perdamaian melacak akar-akar kekerasan dalam agama, pula dengan batas minimal 5 halaman folio, wow ! Sedemikian rumitkah agama (dalam hal ini Islam tentunya) dalam pandangan “teman-teman kecil” penulis ? atau dogma-dogma agama yang semakin tidak relevan seiring dengan berkembangnya era komputerisasi ini ?

Memang tidak ada agama dimanapun didunia ini yang mengajarkan pengikutnya kekerasan. Tidak kristen, Islam, konghucu atau agama yang lain. Walaupun dalam beberapa muqarrar materi kuliah studi perbandingan agama universitas Al-Azhar, penulis pernah menemukan bentuk pelegalan kekerasan dengan mengatasnamakan agama, bahkan atas perintah agama. Sebenarnya kalau kita melihat lebih obyektif lagi pada prinsipnya tidak ada satupun agama yang menganjurkan umatnya untuk bersikap kasar apalagi melakukan kekerasan, tapi ketika kita seringkali melihat tayangan berita baik media cetak maupun televisi, hampir di penghujung awal abad 21 ini kita disuguhi dengan kisah-kisah nyata kekerasan bahkan kriminalitas berkelas internasional bermotifkan agama. Masih terekam jelas dibenak kita peristiwa 9/11, bom Bali, bom Kuningan, atau bentuk-bentuk “kriminalitasi jihad” berskala besar lainnya. Hal ini bukan berarti penulis terjebak dalam stigma atau bahkan stereotif barat (Baca : Amerika dan sekutunya) tentang terorisme Islam yang semakin populer melalui propaganda para “polisi dunia” tersebut. Akan tetapi lebih didasari atas keprihatinan penulis terhadap pola pikir oknum-oknum atau segelintir elit agama yang kurang bisa memahami teks-teks agama secara substansial dan proporsional bahkan terkesan salah total. Belakangan, kekerasan atas nama Islam, yang dilakukan beberapa kelompok di Indonesia, kembali menguat. Penyerangan terhadap keyakinan lain, mulai dari intimidasi, penyerbuan, hingga genderang perang suci, ditabuh keras. Lalu, apa yang menjadi akar kekerasan atas nama agama (Baca: Islam) terjadi ?

Berbicara kekerasan atau bahkan akar-akar kekerasan dalam Islam tidak bisa terlepas dari konsep ajaran Islam itu sendiri sebagai rahmat bagi seluruh alam (termasuk penghuninya tentunya). Karena Islam sendiri bermakna damai, tunduk, patuh dan pasrah yang berasal dari kata aslama-yuslimu islâman. Dalam ritual salat pun, yang merupakan kewajiban utama dalam Islam, ikrar terakhir yang diucapkan adalah memberikan keselamatan dan kedamaian bagi sesama umat manusia. Sebuah simbol bahwa muara akhir dari ajaran ini adalah perdamaian. Bahkan dalam sebuah perselisihan biasa, orang Islam bahkan dilarang mengawetkan konflik melebihi batas tiga hari. Ketika terjadi konflik, maka jalan islah atau perdamaian menjadi pilihan utama. Lebih-lebih untuk suatu pertengkaran yang disertai kekerasan. Islam sungguh tidak membenarkannya. Membunuh satu orang sama dengan membunuh banyak orang. Menyelamatkan satu nyawa sama dengan membebaskan banyak umat manusia. Itulah ruh Islam sebagai agama perdamaian. Agama anti kekerasan.

Selain itu, sejarah tentang perdamaian adalah sejarah yang cukup panjang. Sebab dalam sejarah kekuasaan Islam, utamanya pada zaman dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak ditemukan sejumlah orang-orang Yahudi dan Kristen yang menjadi bendahara, sekretaris, penterjemah, pengajar, team dokter, bahkan penasehat raja. Ini tidak lain disemangati, bahwa dalam sistem kekuasaan sekalipun perdamaian harus diutamakan, karena hampir tidak mungkin membangun tatanan masyarakat yang maju, adil dan sejahtera tanpa basis perdamaian yang kuat.

Akan tetapi sejarah tentang kekerasan dalam Islam adalah sejarah hitam yang tidak boleh dipandang sebelah mata lagi terutama oleh umat Islam sendiri. Karena menurut hemat penulis hanya lewat studi kritis terhadap teks serta telaah obyektif terhadap târikh, kita bisa menemukan bahwa benih-benih kekerasan itu mulai muncul semenjak wafatnya rasul Muhammad saw, umat Islam ketika itu ibarat ayam kehilangan induknya, pertentangan dan perpecahan terjadi disana-sini sampai akhirnya terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Akan tetapi selang beberapa lama Abu Bakar terpilih menjadi khalifah, beliau membuat keputusan memerangi kaum yang tidak mau membayar zakat kepada pemerintahan ketika itu, tentunya Abu Bakar terlebih dahulu memvonis mereka dengan label murtad sehingga wajib diperangi, sebenarnya pada awalnya banyak diantara sahabat yang menolak putusan itu. Bahkan Umar berpendapat bahwa dakwaan murtad sebenarnya tidak tepat bagi orang Islam yang masih salat dan bersyahadat. Namun Abu Bakar tetap bersikeras, otoritas seorang khalifah tidak bisa diganggu gugat disamping demi persatuan Islam tentunya. Penulis teringat analisa Muhammad Imarah dalam bukunya, Al-Islam wal Hurûb al-Dîniyah, ia menorehkan catatan kritis terhadap sejarah “perang terhadap orang murtad” (harb al-murtaddîn) itu. Label “murtad” bukan dalam ranah teologis–dalam arti, keluar dari agama–tapi dalam ranah politis. Kelompok itu bukan tidak mau membayar zakat, tapi tidak mau menyerahkan zakat kepada pemerintah pusat yang dipimpin Abu Bakar setelah Rasulullah mangkat. Mereka merupakan kelompok pembangkang (al-bughât) dan menolak kepemimpinan Abu Bakar. Pemikir politik Islam asal Maroko, Muhammad Abid Jabiri, memberikan kesan yang sama. Perang itu bertujuan menjaga formasi kedaulatan Islam yang masih dini.

Sejarah Islam kembali ternoda lagi lewat peristiwa menyedihkan pembunuhan sesama muslim, peristiwa pembunuhan Khalifah terpilih Usman bin Affan. Dalam sejarah klasik kita bisa membaca bahwa faktor utama terjadinya pembunuhan itu tidak lain adalah kecemburuan sosial atas kepemimpinan nepotisme yang dianut Usman. Ia terlalu banyak mengangkat keluarganya menjadi pejabat pemerintah. Posisi-posisi penting diserahkannya pada keluarga Umayah. Yang paling kontroversial adalah pengangkatan Marwan bin Hakam sebagai sekretaris negara. Banyak yang curiga, Marwan-lah yang sebenarnya memegang kendali kekuasaan di masa Ustman. Hal ini patut disadari karena ketika terpilih Usman sudah terbilang cukup tua, 70 tahun.
Di masa itu, posisi Muawiyah bin Abu Sofyan mulai menjulang menyingkirkan nama besar seperti Khalid bin Walid. Amr bin Ash yang sukses menjadi Gubernur Mesir, diberhentikan diganti dengan Abdullah bin Abu Sarah -keluarga yang paling aktif berkampanye untuk Ustman dulu. Usman minta bantuan Amr kembali begitu Abdullah menghadapi kesulitan. Setelah itu, ia mencopot lagi Amr dan memberikan kembali kursi pada Abdullah. Ketidakpuasan menjalar ke seluruh masyarakat. Beberapa tokoh mendesak Ustman untuk mundur. Namun Ustman menolak. Ali mengingatkan Ustman untuk kembali ke garis Abu Bakar dan Umar. Ustman merasa tidak ada yang keliru dalam langkahnya. Malah Marwan berdiri dan berseru siap mempertahankan kekhalifahan itu dengan pedang. Situasai tambah panas. Sampai akhirnya beberapa rombongan dari Mesir, Kufah dan Basrah mengepung rumah Usman sehingga terjadilah peristiwa pembantaian sesama muslim yang mencoreng sejarah itu.
Dalam sejarah klasik disebutkan seorang bernama Al Ghafiki menghantamkan besi ke kepala Ustman, sebelum Sudan bin Hamran menusukkan pedang. Pada tanggal 8 Zulhijah 35 Hijriah, dalam usia 82 tahun Ustman menghembuskan nafas terakhirnya sambil memeluk Quran yang dibacanya. Sejak itu, kekuasaan Islam semakin sering diwarnai oleh tetesan darah.

Sejarah kembali mencatat beberapa peristiwa penting pembunuhan besar-besaran sesama muslim pasca pembunuhan Usman. Dimulai dari konflik Ali versus Muawiyah yang akhirnya juga ikut menyeret Ummul Mukminin Aisyah juga sahabat Thalhah bin Ubaidillah serta Zubair bin Awwam. Dalam perang Jamal, kubu Ali berhasil mendapatkan kemenangan. Aisyah sendiri tertawan setelah tandu untanya dipenuhi anak panah. Sedangkan sahabat Zubair tewas sementara Thalhah terluka parah. 10 ribu orang tewas dalam perang sesama muslim ini. Kemudian disusul dengan perang Shiffin, perang dihulu sungai Eufrat diperbatasan antara Irak-Syiria. Puluhan ribu Muslim mati dalam perang ini. Dimulai dari perang inilah ¬¬(yang kemudian para ulama menamakan peristiwa ini al-fitnah al-kubro) terjadi puncak perpecahan dan kekerasan dalam sejarah Islam. Munculnya aliran Syiah (kubu Ali) dan Khawarij yang akhirnya memvonis halal darahnya orang-orang yang menerima tahkim termasuk Ali (yang kemudian tewas terbunuh oleh Abdurrahman bin Muljam), Muawiyah, serta Amru bin Ash. Kemudian pembunuhan serta penghinaan terhadap semua keturunan Ali oleh daulah bani Umayyah ketika itu, sampai akhirnya dari situlah kekerasan demi kekerasan menghiasi wajah Islam, perpecahan demi perpecahan terjadi, firqoh-firqoh bermunculan serta tentunya dengan klaim sesat satu sama lainnya bahkan saling klaim murtad atau kafir, bahkan saling serang.

Inilah yang penulis anggap bahwa perlunya telaah obyektif terhadap sejarah serta studi kritis teks-teks agama. Dari sini kita bisa melacak dimana sebenarnya faktor-faktor atau akar-akar yang menyebabkan kekerasan atas nama agama itu terjadi. Karena sebagaimana yang penulis sebutkan diawal bahwa tidak ada satupun agama yang mengajarkan umatnya kekerasan. Semuanya hanya bermula dari kepentingan, baik kepentingan teologis, politik, kelompok, pribadi, dan lain sebagainya. Atau dengan bahasa singkat, kepentingan segelintir okum-oknum agamis. Lantas bagaimana dengan studi kritis terhadap teks ?
Ada analisa menarik yang disampaikan Nasr Abu Zayd, pemikir muslim asal Mesir yang baru saja mendapatkan penghargaan Averroes, tahun 2005, Ia menuturkan bahwa problem utama dalam kekerasan atas nama agama adalah interpretasi. Pada umumnya, umat agama-agama adalah korban dari penafsiran atas teks. Yang mempengaruhi kesadaran keberagamaan pada umumnya adalah kesadaran yang terpaku dan terbatas pada teks tertentu, serta mengabaikan teks-teks yang lain. Pada akhirnya, penafsiran yang lahir adalah penafsiran yang mengalami kemandulan intertekstualitas. Artinya, teks tidak bisa menegosiasikan dan dinegosiasikan dengan teks-teks yang lain. Yang benar hanya teks ini, selain itu tidak ada kebenaran. Teks ini harus diterapkan, bila tidak agama tidak akan tegak. Begitulah kesadaran teologis yang menyebabkan lahirnya kekerasan dengan mengatasnamakan teks. Mereka masih menganggap bahwa teks adalah produk langit yang tidak boleh dikotori dengan pemikiran-pemikiran nakal, semuanya harus kembali kepada teks tanpa ada usaha untuk memaknai kembali (interepretasi) makna-makna yang terkandung serta usaha untuk menegosiasikan teks dengan teks yang lain. Akibatnya agama terkesan kaku bahkan dalam satu sisi terlihat ekstrim.

Sudah terlalu sering kita mendengar fatwa-fatwa beraroma kekerasan sesama muslim, label halal darahnya seseorang atau para penganut aliran tertentu adalah yang paling sering menggema dalam dunia Islam, Indonesia juga tentunya. Secara sewenang-wenang, mereka menggunakan sebaris hadis, “man baddala dînahu faqtulûhu” (“barang siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah ia”). “Mengganti agama” dimaknai murtad, kafir, atau sesat. Fatwa tersebut seperti vonis dalam pengadilan in absentia, tanpa klarifikasi dan pembelaan, dengan dakwaan sepihak. Meskipun demikian, umat Islam yang awam tidak mau tahu dengan prosedur yang tidak sehat itu; yang ditangkap hanya ujungnya: orang ini murtad, kelompok itu sesat, maka dibunuh saja! Sejarah mencatat ancaman-ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada orang-orang yang dianggap nyeleneh secara pemikiran : Ibnu Araby, Ibnu Rusyd, Syaikh Muhammad Ad-Dzahabi (ulama Azhar yang mumpuni yang akhirnya tewas dibunuh oleh jamaah Takfîr wal jihad setelah divonis murtad secara sepihak), Farag fauda (tewas tertembak didepan rumahnya), Nasr Hamid Abu Zayd (yang akhirnya diminta kembali dari pengungsiannya di Leiden oleh Syaikh Azhar sekarang, As-Syeikh Prof. Dr. Sayyid Muhammad At-Thantawi untuk kembali mengajar di almamaternya), Farid Masdar (sempat diancam akan ditangkap dan dibunuh ketika berkunjung ke Mesir dalam rangka sebuah lokakarya), atau bahkan Ulil Abshar Abdalla yang sempat divonis halal darahnya oleh kelompok tertentu di Bandung.
Penggunaan idiom-idiom teologis pada fatwa–yang pada hakikatnya adalah “opini legal manusia”–mampu meniupkan roh kekuatan dan kebanggaan bagi siapa saja yang bersedia “mengorbankan dirinya” untuk menjalankan “misi suci” itu. Imam Samudra, terpidana kasus bom Bali, tersenyum lebar, tidak merasa bersalah atau berdosa, bahkan bangga, setelah membunuh ratusan orang sipil di Bali, yang diyakini sebagai jihad. Bahkan hukuman mati yang dijatuhkannya dianggap sebagai jalan tercepat menuju surga tanpa hisab.
Dari semua yang telah penulis kemukakan diatas tentang telaah obyektif pelaku-pelaku sejarah (tarikh) serta studi kritis terhadap teks-teks agama dapat menjelaskan dengan sangat sederhana, tapi penting, bahwa masalah dan jalan keluar dari maraknya aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama belakangan ini harus dimulai dari para elit agama itu sendiri seperti: juru ceramah, da’i, kiai, ulama dan pimpinan umat. Sebab dalam struktur masyarakat dalam dua katagori, ada yang “dita’ati” dan “mena’ati”, maka sistem yang berlaku adalah top down. Di sini, komitmen para ulama untuk menggali nilai perdamaian harus diletakkan pada urutan pertama. Karena kalau kita mencoba untuk merunut, bahwa yang disebut “teks agama” pada akhirnya adalah ulama. Mereka yang memonopoli tafsir keagamaan, bahkan hanya satu-satunya tafsir alternatif.
Kita semua menyadari, bahwa reformasi agama sesungguhnya adalah reformasi para pemimpinnya: reformasi ulama. Pengalaman reformasi di Mesir relatif berhasil dan sukses, karena Syaikh Muhammad Abduh sebagai ulama dan tokoh agama mampu melahirkan pemikiran-pemikiran progresif. Karenanya, hingga sekarang di lingkungan al-Azhar, dalam setiap zaman selalu muncul para reformis, yang selalu mengedepankan wawasan keagamaan yang damai dan mendamaikan.
Mudah-mudahan hari esok akan senantiasa cerah, secerah agama yang mengajarkan kita akan pentingnya perdamaian. ‘Alâ bi dzikrillâh tathmainnall qulub. Wallâhu A’lam !

Rab’ah El-‘Adaweya, 12 Rabiul Awwal 1427 H